Arsip

rancabuaya

Saat kunjungan dirut Perum Perhutani pada lokasi Hutan Rakyat

Bukan hal mustahil bumi garut selatan dapat menemui kesuburannya dan itu dibuktikan dengan adanya program rehabilitasi hutan rakyat Perum Perhutani bersama Gabungan Kelompok Tani Hutan Rakyat (GKTHR) garut selatan yang sejauh ini diakhir tahun 2011 telah mencapai penanaman Jabon sekitar 80.400 pohon yang ditanam dilahan masyarakat seluas 201 Ha, tentu upaya ini sebagai bukti kepedulian terhadap lingkungan maupun pencapaian kesejahteraan masyarakat itu sendiri, sisi lain sebagai nilai investasi yang dapat memberikan profit yang sangat besar seperti dibuktikan pada lahan sekitar 50 Ha yang merupakan modal hasil partisipasi karyawan Perhutani KPH Garut. Dalam kematangan program dan kinerjanya Perhutani khususnya kepala RUPHR KPH Garut bersama ketua umum KTHR mengadakan persiapan kerjasama tanaman jangka pendek (tumpang sari) sebagai penunjang bagi pendapatan masyarakat juga penyokong pertumbuhan tanaman Jabon dan menurut beliau telah terbuktinya perbedaan pada pertumbuhan diantara lahan yang ditanami palawija dan lahan yang gamblung.

Dengan demikian maka itulah inti tujuan kesejahtraan rakyat garut selatan dimana mereka ditopang dengan cultur ekonomi yang dikembalikannya pada nilai tatali karuhun dengan tiga arah kaki pijakan atau kata siloka kandangwesi “tilu huntu garu” menata bumi hijaukan hutan urus gunung suburkan tani.

Kini telah diawali dengan strategi usaha investasi perum perhutani yang menggalangkan kegitannya pada tanah-tanah tidur dan lahan pertanian digarut selatan meliputi tiga kecamatan Bungbulang, Mekarmukti, dan Caringin. Dan melalui program hutan rakyat itu sedikitnya telah memberi pengaruh besar terhadap cakrawala pemikiran para petani dimana mereka menjadikan lahan miliknya sebagai ladang investasi masa depan dengan cara tanaman tegakan sebagai pokok dan pertanian penopang kebutuhan sehari-hari.

Tetapi pada akhirnya semua itu tetap tersandar pada langkah dasar sebuah tanggung jawab (acuntability) masing-masing pihak yang menjalin erat kebersamaan dengan transparan sehingga melahirkan partisipatif yang mendorong pada keberhasilan

Prospek pengembangan.

Jenis tanaman pada Hutan Rakyat adalah Jabon (Hanja) dengan keluasan telah mencapai 201 Ha yang terbagi di bebarapa Desa diantaranya :

Tanaman Jabon Pada Kerjasama Perum Perhutani dilahan masyarakat

Pinutur Sejarah (kaitan kerajaan Penguasa)

Hubungan dimasa Padjajaran

Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa itulah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di kerajaan Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi, sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah “sepi” selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran.

Prasasti Batutulis di Bogor menyebutkan keagungan Sri Baduga Maharaja dalam sejarah.

Di Jawa Barat, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira“.

Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai ksatria pemberani dan tangkas, bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sezamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

 

Kebijakan dalam kehidupan social

Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan “dasa”, “calagra”, “kapas timbang”, dan “pare dongdang”.

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut “dayeuhan” (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu “dasa” (pajak tenaga perorangan), “calagra” (pajak tenaga kolektif), “kapas timbang” (kapas 10 pikul) dan “pare dondang” (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, “upeti”, “panggeureus reuma”.

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa “kapas sapuluh carangka” (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

“Pare dondang” disebut “panggeres reuma”. Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti “tempat tidur” persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut “dondang” (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, “pare dongdang” atau “penggeres reuma” ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk “dasa” dan “calagra” (Di Majapahit disebut “walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di “serang ageung” (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan “wwang tani bakti di wado” (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah zaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk “rodi”. Bentuk dasa diubah menjadi “Heerendiensten” (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi “Algemeenediensten” (dinas umum) atau “Campongdiesnten” (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. “Preangerstelsel” dan “Cultuurstelsel” yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi “lakon gawe” dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa “puraga tamba kadengda” (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban “gebagan” yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.

Jadi “gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa”, menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa “piteket” karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas “kabuyutan” di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai “lurah kwikuan” yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya

Carita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :

Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa“.

(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran.

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :

  1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
  2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
  3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
  4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).

Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d’Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya — Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara — diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar “The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men” (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).

Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam zaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

 

Hutan Rakyat (KTHR) Garut Selatan

Kelompok Tani Hutan Rakyat Rancabuaya Dalam Penanaman Tanaman Jabon seluas 300 Ha

Rencana penanaman pada hutan rakyat di garut selatan merupakan salah satu program yang sangat baik dilakukan karena hampir sekitar 40% keluasan lahan yang ada tergolong masih kosong, tentu dengan adanya rencana penyelenggaraan hutan rakyat menjadi salah satu kesempatan yang cukup menyegarkan terhadap prospek kedepan apalagi kemungkinan 6 tahun yang akan datang nilai investasi hasil kayu memiliki pasar yang cukup dominan.
Pasca teraflikasinya isu yang dikembangkan oleh perum perhutani bersama ketua umum KTHR melalui sosialisasinya telah mendapat respon baik dari masyarakat yang mencakup beberapa desa di kecamatan caringin, bungbulang, dan mekarmukti sehingga sampai hari ini terekrut sekitar 172 anggota masyarakat petani (pemilik lahan) dengan keluasan lahan rehabilitasi 150 Ha berikut luas pengembangan sekitar 200 Ha. dari hasil tersebut tentu tidaklah mudah dilakukan karena troma masalalu masyarakat selatan masilah besar khususnya terhadap sodoran program-program yang sering mengalami kebuntuan dan ketidak jelasan dari perlakuan PT maupun pemerintah bersama program bayangannya. padahal bagi para petani yang dibutuhkan adalah ketepatan segi finansial, matangnya rancangan pelaksanaan kerja, serta penerimaan hasil produksi yang terkendali, itu merupakan modal kerjasama secara sinergi yang ditunggu-tunggu masyarakat selatan. kini dengan rencana kerjasama perum perhutani yang katanya akan dibangun melalui Perjanjian kerjasama tentu memberi harapan besar bagi masyarakat petani dalam mendapatkan sektor usaha dari mitra kerjasama yang memiliki peran aktif serta tanggungjawab yang jelas sehingga menjadi jembatan bagi pencapaiyan peningkatan kesejhteraan masyarakat dimasa yang akan datang dengan memberi keuntungan yang jelas pula bagi semua pihak dan investasi didalamnya.

ULASAN
________________________________________

Estimasi Agribisnis Jabon
Jabon merupakan tanaman kayu yang pada umumnya digunakan sebagai bahan baku industri plywood. Industri ini merupakan bentuk industri perkayuan yang relatif pesat pertumbuhannya
Hal ini dikarenakan semenjak tahun 2002, sebuah organisasi internasional di bidang industri perkayuan atau International Trade of Timber Organization (ITTO)mengeluarkan persyaratan bahwa kayu-kayu tropika tidak boleh diekspor kecuali kayu tersebut diolah terlebih dahulu.

Industri perkayuan dalam bentuk plywood ini mengakibatkan permintaan akan kayu semakin tinggi. Industri kayu memiliki skema produksi yang unik, dimana arus outputnya lebih besar daripada arus inputnya. Penyediaan bahan baku yang relatif lama menjadi faktor kendalanya.

Rencana Lokas Tanaman
Agribisnis Jabon, berupaya menjawab tantangan industri perkayuan khususnya plywood tersebut. Kondisi ini dikarenakan usia panen tanaman jabon yang relatif singkat untuk ukuran tanaman kayu. Jabon dapat dipanen pada umur 6 s/d 7 tahun. Sehingga, tanaman jabon merupakan alternatif yang paling tepat sebagai bahan baku plywood atau industri perkayuan sejenis.

Harga pasaran untuk per-kubik kayu jabon saat ini sebesar Rp.850.000. lima tahun mendatang diperkirakan Rp 1.200.000. Sedangkan untuk usia tebang 6 s/d 7 tahun satu batangnya dapat menghasilkan rata-rata sebanyak 1,5 meter kubik. Sehingga dalam 1 batang pohon jabon tersebut dengan harga sekarang dapat menghasilkan uang Rp.1.275.000.
Tetapi jabon sesungguhnya sudah bisa dipanen sebelum usia panen diatas (3, 4 s/d 5 tahun).

SIFAT KAYU JABON

Sifat Fisik

Ciri Umum:Warna Kayu teras berwarna putih semu-semu kuning muda, lambatlaun menjadi kuning semu-semu gading, kayu gubal tidak dapat dibedakan dari kayu teras.Tekstur kayu agak halus sampai agak kasar.
Arah serat lurus, kadang-kadang ag8k berpadu.
Permukaan kayu licin atau agak licin.
Permukaan kayu jelas mengkilap atau agak mengkilap.
Pori bergabung 2-3 dalam arah radial, jarang so¬liter, diameter 130-220 µ, frekuensi 2-5 per mm2.
Parenkim agak jarang, dapat dilihat di bawah loupe 10x seperti garis-garis pendek yang ter¬sebar, seringkali 2-3 garis bersambungan dalam arah tangensial di antara iari-jari dan bersing¬gungan dengan pori, atau membentuk garis-garis panjang yang halus dan merupakan jaringan se¬perti jala dengan jari-jari
Jari-jari uniseriat, tinggi 580 µ, lebar 44 µ, fre¬kuensi 2-3 per mm.
Panjang serat 1.979 µ dengan diameter 54 µ, tebal dinding 3,2 µ dan diameter lumen 47,6 µ

Sifat Fisis
Berat jenis: 0,42 (0,29-0,56)
kelas kuat: III-IV
Penyusutan sampai kadar air 12% adalah 3,0% (R) dan 6,9 %(T)Sifat Mekanis

Keteguhan lentur static
Tegangan pada batas proporsi (kg/cm2) b 294 k 387
Tegangan pad a batas Patah (Kg/CM) b 516 k 691
Modulus elastisitas (1.000 Kg/Cm2 b 5,4 k 68,0
Usaha sampai batas proporsi (kgm/dm3) b 0.3 k 0.80
Usaha sampai batas patah (kgm/dm3 b 5.4 k 6.0

Keteguhan Pukul
Radial (Kgm/Dm3) b 20.2 k 22.3
Tangensial Kgm/dm3) b 20.6 k 24.2
Keteguhan tekan sejajar Tegangan Maksimum (Kg/Cm2) b 279 k 374

Kekerasan (JANKA)
Ujung (kg/cm3) b 275 k 374
Sisi (kg/cm2) b 239 k 268
Keteguhan Geser
Radial(Kg/Cm2) b 36.6 k 48.4
Tangensial (kg/cm2) b 46.4 k 59.1

Keteguhan belah
Radial(Kg/Cm) b 36.2 k 36.1
Tangensial (kg/cm) b 55.0 k 55.1

Keteguhan tarik tegak lurus arah
Radial (kg/cm2) b 32.6 k 25.0
Tangensial (kg/em2) b 38.4 k 31.4

Sifat Kimia
Kadar:
Selulosa 52,4%
Lignin 25,4%
Pentosan 16.2%
Abu 0.8%
Silika 0,1%
Kelarutan
Alkohol-benzena 4.7%
Air Dingin 1.6%
Air panas 3,1%
NaOH1 8,4%
Nilai Kalor 4.731 call/g

PENGOLAHAN

Keawetan
Kayu jabon dimasukkan ke dalam kelas awet V, demikian juga berdasarkan percobaan kuburan jenis kayu ini termasuk kelas awet V. Daya ta¬hannya terhadap rayap kayu kering termasuk ke¬las II. sedangkan daya tahannya terhadap jamur pelapuk kayu termasuk kelas IV-V

Keterawetan
Keterawetan kayu jabon termasuk kelas sedang

Pengeringan
Kayu jabon termasuk mudah dikeringkan dengan sedikit cacat berupa pecah dan retak ujung serta sedikit mencekung. di samping itu karena mudah diserang jamur biru, maka kayu jabon perlu dike¬ringkan secara cepat di udara terbuka

Pengeringan alami
Pengeringan papan tebal 2,5 cm dari kadar air 82% sampai kadar air 14% memerlukan waktu 38 hari.

Pengeringan dalam dapur pengering
Bagan pengeringan yang dianjurkan adalah suhu 57-76,5ºC dengan kelembaban nisbi 70-30%.

Pengerjaan
Kayu jabon dilaporkan mudah digergaji. Hasil pe¬ngujian sifat pemesinan menunjukkan bahwa kayu jabon dapat dibentuk, dibuat lubang persegi dan diamplas dengan hasil baik, sedangkan penyerutan, pemboran dan pembubutan hanya memberi hasil sedang saja.

Kegunaan
Kayu jabon dapat dibuat sebagai bahan bangunan non-konstruksi, mebeler,
bahan plywood (kayu lapis/tripleks), Papan, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, Alas sepatu, korek api, konstruksi darurat yang ringan, cocok untuk pulp serat pendek yang memproduksi kertas kualitas sedang, dan sebagai Silvikultur.VenirKayu jabon mudah dibuat venir tanpa perlakuan pendahuluan dengan sudut kupas 92° untuk tebal venir 1,5 mm.Kayu lapisPerekatan venir kayu jabon dengan urea-formal-dehida menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, Jepang dan Jerman.

Tempat Tumbuh
Jabon umumnya tumbuh pada tanah alluvial lem¬bab di pinggir sungai dan di daerah peralihan an-tara tanah rawa dan tanah kering yang kadang¬-kadang digenangi air. Selain itu dapat juga tum-buh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung
podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lem¬pung berbatu yang tidak sarang. Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hu-jan A dan D, mulai dari dataran rendah sampai ke¬tinggian 1.000 m dari permukaan laut
Permudaan
Permudaan alam banyak sekali terdapat ter¬utama pada tempat-tempat terbuka seperti pada bekas tebangan, bekas jalan sarad atau bekas perladangan. Jabon termasuk jenis pionir yang dapat membentuk kelompok hutan alam murni pada tempat yang bebas persaingan cahava. Permudaan buatan banyak dilakukan di Jawa Timur. Biji disemaikan lebih dahulu di dalam bak kecambah, kemudian setelah tumbuh dan men¬capai tinggi 3 cm dipindahkan ke bedeng pe¬nyapihan atau ke dalam bumbung. Setelah men¬capai tinggi 20-30 cm ditanam di lapangan pada permulasn musim hujan. Penanaman dapat pula dilakukan dengan cabutan atau stump. Jarak ta¬nam 3 m x 2 m. Pertumbuhan jabon termasuk cepat, sehingga pada umur 3 tahun harus di¬lakukan penjarangan pertama dan pada umur 25 tahun sudah dapat menghasilkan kayu per¬tukangan

Buah
Pohon jabon berbuah setiap tahun pada bulan Juni-Agustus. Buahnya merupakan buah maje¬muk berbentuk bulat dan lunak, mengandung biji yang sangat kecil. Jumlah biji kering udara 18¬26 juta butir per kg. Jumlah buah 33 butir per kg atau 320 butir per kaleng minyak tanah. Buah yang berukuran sedang dapat menghasilkan se¬kitar 8.300 pohon. Biji yang telah dikeringkan dan disimpan pada tempat yang tertutup rapat dalam ruangan yang sejuk dapat tahan selama satu tahun

Hama dan Penyakit
Tanaman muda biasa dimakan binatang liar se¬perti rusa dan banteng. Serangga dan jamur Gloeosporium anrhocephali Desm and Mont. menyerang daun yang menyebabkan defoliasi dan mati pucuk.

Kerajinan Keris Kujang Dari Batu Aji

PAMUKA
Rancabuaya bersama keindahannya merupakan potret dari potensi garut bagian selatan yang perlu mendapatkan perhatian serius bagi semua unsur yang ada dibuktikan melalui sentuhan tangan dan pemikiran kreatif anak daerah sehingga penatan pada beberapa obyek kepariwisatan menjadi rujukan bagi nilai jual yang dapat diperhitungkan dimata wisatawan

Sebut saja kang Hudaya adalah salah seorang penggali potensi kerajinan batu Aji yang memiliki keinginan tinggi pada hasil karyanya menjadi nilai eksotis cindra mata wisata Rancabuaya, ampir setiap hari dia menghasilkan prodak kerajinan seketsa cacandrang karuhun dalam bentuk pusaka keris kujang berukuran mini, hal ini dia lakukan sebagai wujud kepedulian terhadap budaya sunda yang saat ini tengah mengalami kemunduran, ujarnya.. bahwa sunda merupakan budaya karuhun yang menggambarkan sebuah watak yang tidak terlepas dari simbol-simbol kearifan luhur, dan ciri budaya karuhun dimulai sekitaran jaman kerajaan padjajaran dimana sebagai pusat pertengahan kejayaan nusantara yang banyak menghasilkan perkakas perang maupun alat rumah tangga serta senjata pula pada masa itu digunakan sebagai lambang kepribadian bagi warga sunda jaman baheula. dengan demikian padjajaran dikatagorikan sebagai kerajaan pertama penghasil prodak-prodak yang terbuat dari batu, besi dan bahan kerajinan lainnya. sampai terakhir terjadinya penyusutan kerajaan yang diikuti karya – karya padjajaran yang berpindah kebeberapa kerajaan di Majapait, sebelum wilayah kandang wesi pada tahun 1590 masuk kekuasan Mataram. Maka pada ulasan tersebut kang Hudaya memperkenalkan sekelumit sejarah karuhun dengan tujuan secara mistik apa yang dilakukannya merupakan panggilan dari batas kemampuan wajar yang terdorong dari beberapa unsure energy didalamnya

Tetapi pada dasarnya karya seni dibangun dari sebuah imajinasi atau kehendak seseorang yang meliputi sisi balik kehidupan dengan menggambarkan sesuatu melalui karya nyata yang indah sehingga diharapkan keturunan sunda dapat mengenang masa kedigjayaan sunda melalui beberapa potensi yang ada dirancabuaya.

  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.